Tafsir Surah Al Maun

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوان

Surat ini dikhilafkan oleh para ulamā apakah dia surat makkiyyah atau madaniyyah.

Dari konteks pembicaraan yang dibahas oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam surat Al Mā'ūn:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ# فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

"Tahukah engkau tentang orang yang mendustakan agama?"

Konteks pembicaraan ini cocoknya turun di Mekkah, tentang orang-orang musyrikin yang mereka mendustakan agama dan hari kebangkitan.

Dari sini jumhūr ulamā mengatakan bahwa surat ini adalah surat makkiyyah.

Sedangkan sebagian ulamā mengatakan surat ini surat madaniyyah, kenapa?

Karena topiknya dalam surat ini, Allāh menyebutkan orang-orang munāfiq.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

"Orang-orang yang shalāt namun mereka riyā."

Dan orang-orang munāfiq tidak ada di Mekkah. Orang-orang munāfiq baru muncul di kota Madīnah, sehingga surat ini surat madaniyyah karena turunnya di Madīnah.

Sebagian ulamā juga mengatakan, setengahnya turun di Mekkah dan setengahnya turun di Madīnah.

Wallāhu Ta'āla A'lam bishawab, apakah dia makkiyyah atau madaniyyah tidak menjadi masalah, yang penting kita membahas tentang isinya.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman tentang surat ini:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

"Tahukah engkau tentang orang yang mendustakan agama?"

Ad dien adalam bahasa Arab artinya al jaza, sebagaimana pepatah mengatakan:

"Sebagaimana engkau berbuat engkau akan dibalas."

Sebagimana perkataan para ulamā:

الجزاء من جنسالعمل

"Balasan sesuai dengan jenis perbuatan."

√ Seseorang berbuat baik kepada manusia maka Allāh akan berbuat baik kepadanya.
√ Seseorang yang meringankan beban orang lain, Allāh akan ringankan beban dia didunia dan ākhirat.
√ Seseorang yang membahagiakan orang lain Allāh akan bahagiakan dirinya.

Ini sudah otomatis, al jazaa min jinsil amal.

Diantara nama-nama hari kiamat adalah ad dīn, hari pembalasan (yaumul dīn).

Surat ini, topiknya bercerita tentang bagaimana orang yang mendustakan agama dan akhirnya akan menimbulkan akhlaq yang sangat buruk. Bermula dari pendustaan terhadap agama dan hari akhirat.

Oleh karenanya, keimanan terhadap hari akhirat merupakan perkara yang sangat penting.

Barangsiapa yang yakin akan ada hari pembalasan, barangsiapa yang yakin ada hari persidangan dimana dia akan dibangkitkan oleh Allāh, maka dia akan berbuat sebaik baiknya di dunia ini.

Tapi barangsiapa yang tidak yakin dengan hari kebangkitan, tidak yakin adanya hari persidangan, tidak yakin adanya hari pembalasan atau ragu dengan hari tersebut, maka dia akan berani melakukan kemaksiatan.

Dia berani berzina, berani mencuri, berani melakukan macam-macam, kenapa?

Karena dia tidak yakin atau ragu dengan hari kebangkitan, sehingga dia berani melakukan kemaksiatan.

Oleh karenanya, orang yang imannya kuat kepada hari akhirat, maka akan tampak dari perilakunya.

Di sini Allāh menyebutkan tentang sikap orang yang tidak beriman kepada hari pembalasan dimana perilakunya yang sangat buruk.

Kata Allāh:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

"Tahukah engkau tentang orang yang mendustakan agama (hari pembalasan)?"

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

"Itulah orang yang menghardik anak yatim."
 
Kata يَدُعُّ dari artinya mendorong.

Kata Allāh orang yang mendustakan hari pembalasan (hari akhirat) adalah orang yang mendorong anak yatim. Dia tidak peduli menyakiti anak yatim. Dia tidak tahu bahwasanya anak yatim adalah anak yang butuh perhatian.

Kita tahu bahwasanya yatim dalam istilah syariat adalah orang yang ayah meninggal dan dia belum bāligh.

Kalau sudah bāligh tidak bisa dikatakan yatim.

Sebaliknya kata para ulamā, kalau hewan dikatakan hewan yatim kalau induknya  (ibunya) meninggal, kenapa?

Karena yang merawat hewan tersebut adalah induknya.

Oleh karenanya, hewan dikatakan yatim kalau ibunya (induknya) meninggal.

Tetapi kalau manusia dikatakan yatim kalau bapaknya yang meninggal, karena bapaknya yang mengurus dan mencarikan nafkah dan sampai usia bāligh.

Kalau sudah bāligh, sudah dewasa, maka dia bukan yatim lagi. Dia bisa bergerak, dan dia sudah bisa berusaha.

Seperti istilah mualaf, al mualaf artinya orang yang di dekati hatinya. Diistilahkan juga buat orang yang baru masuk Islām, imannya belum kokoh. Maka kita perlu memberi bantuan, kita beri zakat supaya imannya kokoh.

Mualaf ini artinya bukan orang yang masuk Islām secara mutlak, tapi yang baru masuk Islām, baru setahun dua tahun atau beberapa bulan.

Sedangkan orang yang sudah bertahun-tahun masuk Islām tidak bisa dikatakan seorang mualaf.

Kalau semua orang yang berpindah agama lain masuk agama Islām dikatakan mualaf maka seluruh shahābat adalah mualaf, dulu mereka musyrikun kemudian masuk Islām.

Ini adalah istilah yang keliru namun sudah menjadi istilah umum, bahwa semua yang masuk Islām (baru masuk atau sudah lama masuk Islām) tetap dikatakan mualaf. Ini contoh kekeliruan dalam istilah.

Diantara sifat-sifat jāhilīyah adalah mereka meremehkan orang-orang yang lemah sepert anak yatim dan para wanita.

Di zaman jāhilīyah para wanita tidak diberikan warisan, tidak dihargai, begitu pula anak yatim. Anak yatim pada zaman jāhilīyah tidak dihargai, kenapa?

Karena tidak ada yang melindungi mereka. Apabila mereka (anak yatim) memiliki harta yang banyak akan di ambil, digunakan secara dzalim.

Oleh karenanya, Allāh menyebutkan tentang hal ini, bahwasanya orang yang tidak beriman dengan hari kebangkitan (hari pembalasan), maka mereka mendorong anak yatim, sikapnya kasar, membentak, menghardik, mendorong anak yatim, mendzalimi anak yatim, kenapa?

Karena mereka tidak beriman dengan hari pembalasan.

Dan diantara sifatnya:

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

"Tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin."

Bakhil (pelit), di tidak yakin bahwasanya apa yang dia berikan akan dibalas oleh Allāh di dunia dan ākhirat.

Oleh karenanya  dalam hadīts, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :

وَلاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالإِيمَانُ فِى قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

"Tidak akan berkumpul dalam hati seorang mu'min selamanya, antara keimanan dengan pelit (tidak mungkin berkumpul)."

(Hadīts riwayat An Nasāi di shahīh kan oleh Syaikh Al Albāniy rahimahullāh dalam kitāb Shahīh Al Jami’, no. 7616 )

Kalau seseorang pelit berarti imannya kepada hari pembalasan kurang. Dia pelit mengeluarkan uang, berat, seakan-akan uang tersebut hilang tidak akan kembali. Berbeda dengan orang yang beriman dengan hari akhir dia akan mengeluarkan (tidak pelit) dan yakin Allāh akan mengembalikan di ākhirat dengan berlipat ganda.

Oleh karenanya orang ini:

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

"Dia tidak pernah motivasi untuk memberi makan kepada fakir miskin."

Dia tidak pernah memotivasi dirinya untuk memberi makan fakir miskin, apalagi memotivasi orang lain. Ini adalah contoh orang-orang yang bakhil.

Yang lebih parah, orang bakhil dan mengajak orang lain bakhil.

Demikian juga dengan para pelaku maksiat, para pelaku maksiat ingin mencari teman.

Apabila mereka suka melakukan kemaksiatan mereka akan mengajak orang lain agar seperti dia. Supaya tidak dia saja yang dicela, mereka mencari teman. Sehingga apabila sudah banyak temannya, mereka akan mencela orang baik, itulah kegiatan mereka.

Demikianlah apa yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, In syā Allāh besok kita lanjutkan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________________

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 12 Rabiul Akhir 1438 H / 10 Januari 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al Mā'ūn
📖 Tafsir Surat Al Mā'ūn bagian 01
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0303


Banyaklah Membaca Al Quran

🏾Ustadz DR.Firanda Andirja, MA

Tatkala Ad-Dhiyaa’ al-Maqdisi akan bersafar untuk menuntut ilmu hadits maka Ibrahim bin Abdil Wahid Al-Maqdisi berwashiat kepadanya seraya berkata :

أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَلاَ تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَّسَرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ

“Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan jangan kau tinggalkan Al-Qur’an. Karena akan dipermudah bagimu apa yang kau cari sesuai dengan kadar bacaannmu”

Ad-Dliyaa’ Al-Maqdisi berkata
فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيْراً، فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيْراً تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيْثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيْرِ، وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَّسَرْ لِي

“Maka akupun melihat hal itu dan sudah sering aku mencobanya. Jika aku banyak membaca Al-Qur’an maka dimudahkan bagiku untuk mendengar dan mencatat banyak hadits. Namun jika aku tidak membaca Al-Qur’an maka tidak dimudahkan bagiku” (Dzail Tobaqoot Al-Hanaabilah karya Ibnu Rojab Al-Hanbali 3/205)

Ya Allah jadikanlah kami para pecinta Al-Qur’an yang berisi firman-firmanMu… Yang membacanya siang dan tengah malam…

Janganlah jadikan kami orang-orang yang lalai membacanya hanya karena secercah dunia…
Yang merasa dirinya sibuk…
Merasa waktunya kurang…
Tidak sempat untuk membaca Al-Qur’an…

Akan tetapi selalu saja sempat untuk internetan dan bersenda gurau…


Mari Beramal Shalih

"Kemarin adalah sebuah pengalaman,
Hari ini adalah amal,
Dan Esok adalah angan."
(Fudhail bin 'Iyadh dalam Az Zuhud Al Kabiir no 475)

Saudaraku, hanya detik ini kesempatan pasti kita tuk beramal.

Belajarlah dari hari kemarin lalu gunakan hari ini dengan sebaik-baiknya!

Sedangkan esok... masih sebuah angan yang belum tentu dapat dijangkau oleh usia seorang insan.

Ibnu Umar -radhiyallahu 'anhu- menasehati:
"Jika anda berada di sore hari, jangan menunggu waktu pagi dan jika anda berada di pagi hari, jangan menunggu waktu sore."
(HR Bukhari 6416)

Selamat beramal shalih...

✏ Muhammad Nuzul Dzikri

Telegram
@muhammadnuzuldzikri


KESEMPURNAAN AGAMA ISLAM

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــــــــم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد

Kaum Muslimin,

Kesempurnaan sebuah agama adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa bagi pemeluk agama tersebut.

Dan alhamdulillāh, Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah mengabarkan di dalam Al Qurān bahwasanya agama kita (agama Islam) adalah agama yang sudah disempurnakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬اۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah menyempurnakan bagi kalian kenikmatan bagi kalian dan Aku telah ridhai Islam ini sebagai agama kalian.”

(QS Al Māidah: 3)

⇒ Ini menunjukkan tentang kesempurnaan agama ini dan bahwasanya Islam adalah agama yang sempurna.

Al Imām Ibnu Katsīr rahimahullāh, ketika beliau menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan:

◆ Bahwasanya ini adalah kenikmatan yang paling besar yang Allāh berikan kepada umat ini karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menyempurnakan bagi umat ini agama.

◆ Tidak ada yang halal, kecuali apa yang Allāh halalkan. Dan tidak ada yang haram, kecuali apa yang Allāh haramkan. Dan tidak ada agama, kecuali apa yang Allāh syariatkan.

⇒ Ini menunjukkan tentang kenikmatan kesempurnaan sebuah agama.

Oleh karena itu, orang-orang Yahudi, ketika mereka mengetahui tentang ayat-ayat ini mereka berkata kepada 'Umar bin Khaththāb radhiyallāhu 'anhu:

"Ada sebuah ayat yang ada di dalam sebuah kitab kalian, apabila ayat tersebut turun kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai Hari Raya.

Maka 'Umar berkata:

'Apakah ayat tersebut?'

Mereka mengatakan:

'Yaitu firman Allāh':

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬اۚ

⇒ Ini menunjukkan kepada kita, sekali lagi, tentang kenikmatan kesempurnaan agama Islam ini.

Oleh karena itu sebagai seorang Muslim maka hendaklah dia bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang telah memberikan taufik dan hidayah kepadanya sehingga dia bisa memeluk sebuah agama yang telah disempurnakan oleh Allāh 'Azza wa Jalla.

Kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Allāh,

Dan sebagai tuntutan keyakinan kita tentang kesempurnaan agama ini, adalah diharamkannya kita membuat perkara (amalan-amalan) yang baru (bid’ah) di dalam agama ini.

Karena orang yang membuat bid’ah di dalam agama maka seakan-akan dia telah menganggap agama ini belum sempurna sehingga perlu di sana tambahan syariat yang baru.

Dan ini adalah perkara yang tentunya membahayakan agama seorang Muslim.

Bagaimana dia mengatakan bahwasanya agama ini adalah agama yang kurang yang dengan lisannya maupun dengan keadaannya?

Padahal Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menyempurnakan agama Islam ini.

Demikian pula, orang yang melakukan bid’ah di dalam agama, maka seakan-akan dia telah menganggap dan menuduh bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengkhianati risalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Padahal Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sebagai seorang Nabi, telah melaksanakan tugasnya.

Di dalam sebuah hadits, Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إنه لم يكن نبي قبلي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم شر ما يعلمه لهم

“Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumku kecuali wajib baginya untuk menunjukkan umatnya kebaikan yang dia tahu dan wajib baginya untuk mengingatkan umatnya kejelekan yang dia tahu.”

(HR Muslim)

⇒ Ini menunjukkan bahwa setiap Nabi, mereka sudah menyampaikan risalah dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Nah, kalau kita menganggap bahwasanya di sana ada amalan yang belum disampaikan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berarti kita telah menuduh Beliau mengkhianati risalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Orang yang melakukan bid’ah (amalan yang tidak pernah diajarkan oleh Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam) seakan-akan menganggap bahwasanya ada syariat yang belum disampaikan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Al Imām Malik rahimahullāh, guru dari Imām Syāfi'ī rahimahullāh mengatakan:

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خان الرسالة لأن الله يقول (اليوم أكملت لكم دينكم و أتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا), فما لم يكن يومئذ دينا لا يكون اليوم دينا

“Barangsiapa yang membuat bid’ah di dalam agama Islam kemudian dia menganggap bid’ah tersebut adalah bid’ah yang hasanah (baik) maka sungguh dia telah menyangka (telah menuduh) Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengkhianati risalah Allāh.

Karena sesungguhnya Allāh telah mengatakan, 'Pada hari ini Aku telah sempurnakan agama ini bagi kalian.'

Maka sesuatu yang saat itu bukan termasuk agama Islam maka pada hari ini juga bukan termasuk agama.”

Ini adalah ucapan Imām Mālik yang meninggal pada 179 H dan beliau adalah guru dari Imām Syāfi'ī rahimahullāh.

⇒ Menunjukkan kepada kita tentang bahayanya melakukan bid’ah di dalam agama ini.

Itulah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Sumber:
🌍 BimbinganIslam.com
📝 Materi Tematik
👤 Ustadz Abdullah Roy, MA
🔊 Tausiyah Singkat | Kesempurnaan Agama Islam
⬇ Download Audio:
https://goo.gl/m0W2Mq
🌐 Sumber:
https://m.youtube.com/watch?v=okwr3r1FIxE

______________________________
📦 Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

🌐 Website: 
http://www.bimbinganislam.com
👥 Facebook Page: 
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel:
Telegram.me/TausiyahBimbinganIslam
📺 TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv


BUKAN SEKEDAR TAUBAT

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله

Menurut Aqidah Ahlu Sunnah wal Jamā'ah, iman itu ada pasang surutnya.

Kadang naik, kadang turun, kadang bertambah kadang berkurang.

'Aqidah Ahlu Sunnah wal Jamā'ah mengatakan:

◆ الإيمان يزيد وينقص; يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

◆ Iman itu bertambah dan berkurang; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Sementara itu, tidak ada manusia yang lepas dari maksiat.

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُالْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Semua anak Ādam pasti bersalah (berbuat dosa), akan tetapi sebaik-baik orang yang berbuat salah (dan berdosa) adalah yang (menaikkan kembali imannya dengan) bertaubat."
(HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Mājah, Dārimi)

⇒ Sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang segera bertaubat, kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Maka, iman itu sudah pasti akan mengalami penurunan, namun belum tentu naiknya.

Karena tidak semua orang berdosa mengiringi/mengimbangi dosanya itu dengan bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Hanya hamba-hamba yang diberi anugerah dan hidayah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang tergerak hatinya untuk bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan sedikit pula orang-orang yang bertaubat ini yang bersungguh-sungguh taubatnya (taubatan nashūhah).

Yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla katakan di dalam kitab-Nya:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ

"Kecuali orang-orang yang bertaubat lalu dia iringi taubatnya dengan iman dan amal shalih.

Merekalah orang-orang yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla ganti keburukan-keburukan mereka menjadi kebaikan."
(QS Al Furqān: 70)

⇒ Dosa-dosa mereka berubah menjadi pahala,

Berubah (yaitu) dicatat oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadi catatan pahala pada hari kiamat kelak.

Itu berlaku pada orang yang sungguh-sungguh bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, yang meminta ampun kepada Allāh dan Allāh (adalah) Ghafūrur Rahīm.

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا 

"Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengampuni semua dosa."
(QS Az Zumar: 53)

⇒ Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengampuni semua dosa selama pintu taubat belum tertutup.

Kesempatan bertaubat masih terbuka lebar bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Salah satu contohnya adalah seorang yang telah membunuh 100 jiwa. Lalu dia bertanya kepada seorang 'alim:

"Adakah kesempatan bagiku untuk bertaubat?"

Orang 'alim itu mengatakan:
"Apa yang menghalangimu dari taubat?"

Maka orang ini pun segera bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan taubatan nashūhah, dia:
✓Berhenti dari perbuatan dosanya.
✓Menyesali segala perbuatan-perbuatannya.
✓Ber-azzam untuk tidak kembali lagi melakukan dosa yang sama.
✓Mengiringi taubatnya itu dengan amal shalih.

Orang 'alim ini berkata kepada orang yang baru bertaubat tadi:

"Sesungguhnya kamu tinggal di negeri yang buruk. Pindahlah dari negerimu. Hijrahlah kamu ke negeri yang lainnya.

Di sana ada orang-orang yang menyembah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Maka sembahlah Allāh Subhānahu wa Ta'āla bersama mereka."

Dan mantan tukang jagal ini segera berhijrah (tidak menunda-nunda/menunggu-nunggu lagi).

Dia tidak menunda-nunda amal shalihnya ini.
Karena inilah amal shalih yang akan menyelamatkannya.
Sebagai bukti dia benar-benar bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini adalah bukti bahwasanya dia benar-benar bertaubat (taubatan nashūhah), yaitu taubat yang diiringi dengan iman dan amal shalih.

Dan ciri orang yang bertaubat itu adalah dia segera bangkit memperbaiki diri.

Dengan apa?
Dengan menuntut ilmu, bersungguh-sungguh untuk memahami agama Allāh.

Karena dia tahu dan sadar (bahwa) dengan memahami agama Allāh ini (maka) dia akan mengetahui,
✓Apa yang Allāh ridhai
✓Apa yang Allāh murkai

Sehingga dia dapat memperbaiki diri dan dapat bangkit dari keterpurukannya.

Inilah tanda orang yang benar-benar bertaubat atau dalam istilah lain disebut taubatan nashūhah.

Bukan taubat sambal; di bibir bertaubat tapi (di) kelakuan tidak.
Baru kemarin bilang taubat tapi besok sudah diulangi lagi.
Ini namanya bukan taubat

Orang ini telah bermain-main, tidak menunjukkan azzam (kesungguhan) yang kuat untuk kembali kepada jalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Maka syarat taubat itu salah satunya adalah ber-azzam (bertekad kuat/bersungguh-sungguh) untuk tidak kembali kepada dosa yang sama berkali-kali dan dia tidak mempertahankan dosanya itu.

Maka dengan taubat ini, iman hamba yang semula turun dari levelnya, akan kembali lagi ke levelnya.

Dia akan menormalkan kembali grafik iman itu.
Dan apabila dia iringi taubatnya itu dengan amal shalih, maka imannya pun akan naik/bertambah.

Itulah iman dalam pandangan Ahlu Sunnah wal Jamā'ah.

Maka, kita harus benar-benar memperhatikan bagaimana fluktuasi (naik turunnya) iman kita.

Kita kadang-kadang merasakan itu.
Jangankan kita, shahābat yang mulia juga merasakannya.

Hanzhalah Al Ghusayli, salah seorang sekretaris Nabi, merasakan itu.

Dia berkata kepada Abū Bakr Ash Shiddīq ketika, Abū Bakr Ash-Shiddīq bertanya kepadanya:
"Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?"

Hanzhalah mengatakan: "Hanzhalah telah jatuh dalam nifaq."

Maka Abū Bakr Ash Shiddīq berkata: "Apa yang kamu katakan, wahai Hanzhalah?"

Hanzhalah menjelaskan alasannya:
"Kita, wahai Abū Bakar, kalau berada di majelis Nabi dan Nabi mengingatkan kita kepada surga dan neraka, seolah-olah surga dan neraka itu ada di hadapan kita.

Tapi ketika kembali ke rumah kita, bertemu dengan istri kita, sibuk dengan kegiatan kita, pekerjaan kita, kita banyak lupa, begitulah keadaan kita."

Maka kata Abū Bakr Ash Shiddīq, orang kedua di umat ini setelah Nabi Muhammad shallallâhu 'alayhi wa sallam:
"Demi Allāh, wahai Hanzhalah, aku juga merasakan seperti itu."

Coba bayangkan, Abū Bakr Ash Shiddīq saja merasakan imannya naik turun, apalagi kita.

Maka ketika iman kita terasa turun, segeralah kita beristighfar (meminta ampun) kepada Allāh dan bertaubat.

Jadi, taubat itu bukan (hanya) menunggu sadar berbuat dosa (lalu) baru kita bertaubat.

(Akan tetapi) taubat itu dituntut setiap saat, karena kita ini selalu bebuat dosa, baik kita sadari maupun tidak kita sadari.

Maka, (mari) kita imbangi (dosa itu) dengan taubat, istighfar, kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Karena seorang mu'min itu diciptakan selalu (senantiasa) diuji, tergerak untuk kembali ke agama Allāh dan kadang-kadang lupa, namun jika diingatkan dia akan ingat.

Maka, kembalikanlah level iman kita dengan taubat.

Naikkanlah dia (iman) dengan amal shalih setelah kita bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Itulah iman kita.

Mudah-mudahan Allāh Subhānahu wa Ta'āla tetap menjaga & menghidupkan kita tetap di atas iman dan mematikan kita juga di atas iman.

آمين يا رب العالمين
وبالله التوفيق والهداية
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Sumber:
🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 08 Shafar 1437 H / 20 November 2015 M
📝 Materi Tematik
👤 Ustadz Abu Ihsan Al Maidany, MA
🔊 Ceramah Singkat | Bukan Sekedar Taubat
⬇️ Download Audio: https://goo.gl/1YY5Aj
📺 Sumber:
http://yufid.tv/ceramah-singkat-bukan-sekedar-taubat-ustadz-abu-ihsan-al-maidany-ma/
______________________________
📦 Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

🌐 Website: 
http://www.bimbinganislam.com
👥 Facebook Page: 
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel:
Telegram.me/TausiyahBimbinganIslam
📺 TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv