BAHAGIAKAN HIDUP DENGAN IMAN

Oleh : Syarifudin Mustafa, MA.
Sumber : Dakwatuna

I
man secara bahasa adalah kebalikan dari Kufur; yaitu pengakuan yang terpatri dalam hati sementara kufur adalah ketiadaan pengakuan.

Adapun iman secara syara’ adalah Membenarkan dalam hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan.

Dari definisi dapat dipahami bahwa iman adalah tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan dalam berbagai perbuatan. Karena itu Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan yang sama dalam satu keyakinan, maka orang-orang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, di setiap ucapannya dan segala tindakannya sama. Sebagaimana orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip. atau juga orang yang pandangan hidup yang jelas dan sikap hidup yang teguh tanpa terombang-ambing oleh silaunya kehidupan dunia.

Pembagian Iman; Iman ada dua macam

1. Iman yang Hak; yaitu iman yang ditujukan kepada Allah, Rasul, kitab-kitab, malaikat, yaumil Akhir dan takdir, senantiasa mengarahkan hidupnya karena Allah dan sesuai dengan keyakinannya.

2. Iman yang Batil; yaitu iman yang ditujukan kepada selain Allah, tidak sesuai dengan syariat Allah, beriman kepada dukun, sihir, ahli nujum (peramal) dan lain sebagainya, sebagaimana mereka juga yang senantiasa berpegang teguh pada keyakinan yang salah dan tidak mau menerima kebenaran yang diterima.

Iman adalah cara Allah memelihara jati diri manusia dan memberikan kebahagiaan hakiki.

Jika dipahami dengan seksama ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits nabi saw, maka akan ditemukan pentingnya iman pada diri setiap insan dalam menjalani hidupnya di muka bumi ini. Dengan iman maka hidup seseorang akan memiliki nilai, makna dan jati diri yang mulia di sisi Allah, bahkan dengan itulah manusia mendapatkan kebahagiaannya yang hakiki.

Seseorang boleh berbangga dan merasa bahagia pada saat memiliki kekayaan, harta berlimpah, rumah mewah, tanah yang luas, jabatan yang tinggi atau umur yang panjang namun harus disadari itu semua merupakan kebahagiaan nisbi yang terbatas pada kehidupan duniawi belaka, apalagi jika tidak dilandasi dengan iman maka segala kenikmatan tersebut akan berbuah malapetaka. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan”. (Ali Imran:178)

Allah juga berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan (kesenangan berupa kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan mereka) orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. Akan tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. (Ali Imran:196-198)

Tanpa iman hidup manusia akan hampa, tidak memiliki nilai dan jati diri di sisi Allah dan bahkan tidak berbeda dengan makhluk lain seperti binatang, bahkan lebih rendah dari binatang.
Marilah kita lihat beberapa ayat Allah tentang hakikat iman yang dapat memberikan setiap insan menggapai kemuliaan dan jati diri yang terbaik di sisi Allah.

1. Manusia selalu dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman yang tidak akan mengalaminya. Allah berfirman:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al-Asr:1-3)

2. Manusia adalah makhluk sempurna, namun kesempurnaannya akan dapat jatuh dan hina jika tidak dipertahankan dengan keimanan. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (At-Tiin:4-6)

3. Manusia yang beriman senantiasa mendapat kehidupan yang baik dan sejahtera serta ganjaran berlimpah di sisi Allah. Allah berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (An-Nahl:97)

4. Manusia yang beriman, umurnya senantiasa dilimpahi keberkahan dan mendapat rahmat sepanjang hidupnya. Nabi saw bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya”. (Tirmidzi)
Sementara itu, manusia tanpa iman akan mengalami kerugian besar, baik di dunia maupun di akhirat, bahkan Allah SWT mentamtsilkan orang-orang kafir dengan berbagai tamtsil yang sangat buruk.


1. Manusia tanpa iman, ibarat binatang hina bahkan lebih hina dari itu. Allah berfirman:
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, Atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (Al-Furqan:43-44)

2. Manusia tanpa iman, segala perbuatannya bak fatamorgana yang akan hampa dan tanpa nilai yang berharga di sisi Allah. Allah berfirman:
“Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita Malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezhaliman”. Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa. Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (Al-Furqan:21-23)
Dan Allah juga berfirman:
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisi-Nya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya”. (An-Nuur:39)

3. Manusia tanpa iman, kehidupannya bak laba-laba yang membuat sarang (jaring) sebagai tempat tinggal yang mudah dihancurkan. Allah berfirman:
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui”. (Al-Ankabut:41)

4. Manusia tanpa iman, kehidupannya bak anjing yang senantiasa menjulurkan lidahnya. Allah berfirman:
“Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. (Al-A’raf:176)

AGAR KITA SELAMAT

Oleh : Dr. Amir Faishol Fath
Sumber : Dakwatuna

Semua manusia ingin keselamatan. Karenanya di mana-mana dipancang slogan “Safety is our Priority”. Dalam slogan lain kadang berbunyi ” Safety First”. Apapun semua ungkapan itu intinya sama, menyerukan keselamatan. Namun ingat bahwa hakikat keselamatan sebenarnya bukan selamat di dunia. Sebab dunia dirancang bukan untuk menjadi tempat selamanya. Karenanya, sehebat apapun manusia memproteksi dirinya, ujung-ujungnya ia pasti mati. Oleh karena itu setiap kita berbicara tentang keselamatan, sebenarnya itu maksudnya bukan sekadar selamat di dunia, tetapi juga di akhirat. Apa saja yang harus kita lakukan supaya kita selamat di dunia dan akhirat:

Pertama, Utamakan Allah

Allah Pencipta manusia dan pencipta segala makhluk di alam semesta. Dialah Pemilik langit dan bumi. Pun Dialah yang mengurus dan menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan manusia untuk bisa hidup di muka bumi. Lebih dari itu Dialah yang memiliki dunia dan akhirat. Semua manusia kelak akan kembali kepadaNya. Maka sungguh bahagia manusia yang selama hidup di dunia mematuhi aturanNya, di mana ia kelak setelah kembali kepadaNya, membawa amal-amal yang disukaiNya. Sebaliknya sungguh celaka manusia yang lalai. Diberi kesempatan hidup sekali malah disia-siakan. Segala kesempatan itu hanya diisi dengan dosa-dosa dan kesia-siaan. Bayangkan bagaimana penderitaan manusia semacam ini, di saat kelak menghadap Allah, dengan dosa-dosa dan perbuatan yang paling Allah benci.

Bayangkan jika Anda sedang menghadap bos Anda dengan membawa laporan kerja yang isinya kegiatan sia-sia atau merusak perusahaan. Padahal Anda telah mendapatkan fasilitas lengkap dari bos Anda. Namun semua fasilitas itu Anda gunakan bukan untuk melakukan tugas-tugas kantor Anda. Melainkan justru digunakan untuk merusak program perusahaan itu sendiri. Apa yang Anda bayangkan tentang ancaman yang akan ditimpakan bos Anda kepada Anda? Lalu bayangkan jika ini terjadi di hadapan Allah yang Mahatahu. Kalau kepada bos Anda, mungkin Anda masih bisa berbohong, tetapi kepada Allah, Anda tidak mungkin bisa berbasa-basi, atau bersembunyi atau berpura-pura.

Kedua, Contoh Rasulullah

Untuk mentaati Allah butuh contoh. Dan contoh terbaik adalah Rasulullah SAW. Karenanya predikat yang Allah berikan kepada Rasulullah adalah sebagai hamba. Dari kepribadian Rasulullah SAW minimal ada dua hal penting untuk kita tiru: (1) Tiru Cara Ibadahnya kepada Allah. (2) Tiru Akhlaqnya yang mulia. Dalam hal ibadah, Rasulullah SAW Sangat sungguh-sungguh. Maksudnya ibadah ritual. Setiap datang waktu shalat Rasulullah SAW segera ke masjid. Bahkan pernah suatu hari bersabda bahwa beliau akan membakar rumah seseorang yang tidak mau melaksanakan shalat di masjid. Tidak hanya shalat yang wajib, melainkan juga shalat-shalat sunnah. Bila Rasulullah SAW shalat malam, seringkali berdiri terlalu lama karena membaca surah yang panjang sampai bengkak kakinya. Lidahnya tidak pernah kering dari dzikir. Setiap hari selalu mengucapkan istighfar minimal tujuh puluh kali, dalam riwayat lain seratus kali. Tidak hanya shalat puasa juga demikian. Dalam banyak hadits, selalu kita temukan contoh-contoh puasa yang dilakukan Rasulullah SAW. Tidak saja puasa wajib melainkan juga puasa sunnah.

Adapun dalam segi akhlaq, Rasulullah SAW adalah contoh yang paling baik. Allah swt telah memuji akhlaqnya dalam surga Al Qalam:4 Allah berfirman: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Ini pujian bukan ucapan manusia. Seandainya yang mengucapkan manusia, mungkin kita bisa menyangkalnya, sebab boleh jadi pujian itu datang karena kepentingan tertentu atau ada tujuan-tujuan subjektif tersembunyi. Namun pujian itu datang dari Allah yang Maha objektif. Allah maha tahu. Maka tidak ada dalam pujian itu yang ditutup-tutupi. Itu pujian paling mewakili hakikat kepribadian Rasulullah SAW. Dan benar, bahwa Rasulullah SAW berakhlaq mulia. Bagi istrinya beliau adalah suami terbaik. Aisyah RA Menceritakan bahwa Rasulullah SAW tidak menyakiti istrinya, pun tidak pernah memukul benda. Kepada anak dan cucunya Rasulullah SAW adalah contoh ayah yang baik. Seringkali dikisahkan bahwa Rasulullah SAW selalu menyempatkan diri bermain dengan cucunya Hasan-Husein. Kepada sahabat-sahabatnya Rasulullah adalah guru sekaligus sahabat yang baik. Begitu hijrah ke Madinah, beliau segera bangun persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar. Kepada non Muslim Rasulullah SAW melindungi mereka, memberikan hak-hak mereka, tidak ada seorang pun yang dizhalimi, pun tidak satu tempat ibadah pun milik mereka yang dirusak apalagi dihancurkan.

Ketiga, Selamatkan Kemanusiaan

Islam diturunkan untuk keselamatan manusia. Tidak ada dalam ajaran Islam satu ayat atau satu hadits pun yang mengajarkan kezhaliman terhadap kemanusiaan. Dalam perang pun tuntunan Islam sangat jelas. Yang boleh dilawan hanya yang menyerang saja. Sementara anak-anak dan kaum wanita serta para rahib yang sedang beribadah tidak boleh disakiti apalagi dibunuh. Segala yang merusak kemanusiaan diharamkan. Khamer diharamkan karena merusak akal. Zina haram karena merusak nasab dan harga diri. Riba diharamkan karena merusak harta, dan di dalamnya ada kezhaliman dan seterusnya.

Ajaran ibadah ritual dalam Islam, semua bertujuan agar jiwa manusia hidup. Bahwa manusia tidak cukup hanya hidup dengan fisiknya saja. Manusia harus hidup fisik dan jiwanya. Karenanya Allah bekalkan iman. Maka sungguh tidak akan selamat manusia yang mati jiwanya. Inilah makna ayat: qad aflaha man zakkahaa wa qad khaaba mandassaahaa (QS 91:9-10). Perhatikan apa yang di alami manusia-manusia kafir. Mereka meronta-ronta jiwanya. Sekalipun segala kesenangan dunia dimudahkan tetapi mereka masih saja merasakan dalam dirinya ada sesuatu yang hilang. Karenanya mereka lari ke tempat-tempat maksiat. Itupun tidak cukup, mereka di saat yang sama harus mabuk, untuk menghindari ketercekaman jiwa. Namun semua itu bukan jawaban. Sebab jawabannya hanya iman yang jujur.

Lebih jauh, ajaran membantu fakir miskin, menyenangkan anak yatim, menjenguk orang sakit, membantu yang lemah, menghormati yang lebih tua, mengabdi kepada kedua orang tua, itu semua sangat tegas dalam Al Qur’an dan As sunnah. Maka seorang muslim tidak cukup hanya baik secara ibadah ritual melainkan lebih dari itu harus juga baik secara sosial. Tetapi maksudnya bukan seperti yang dikatakan sebagian orang: bahwa yang penting baik sosialnya kepada orang lain, sekalipun tidak patuh dalam ibadah ritualnya. Tidak, tidak demikian pengertian dalam hal ini. Islam mengajarkan keseimbangan: keseimbangan antara jasmani dan rohani, keseimbangan antara ritual dan sosial, pun keseimbangan antara dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bishsawab.

KEUTAMAAN PUASA ENAM HARI DI BULAN SYAWAL

Sumber : Dakwatuna.com

Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Ù…َÙ†ْ صَامَ رَÙ…َضَانَ Ø«ُÙ…َّ Ø£َتْبَعَÙ‡ُ سِتًّا Ù…ِÙ†ْ Ø´َÙˆَّالٍ Ùƒَانَ ÙƒَصِÙŠَامِ الدَّÙ‡ْر

“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).

Filosofi pahala puasa 6 hari di bulan Syawal setelah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan sama dengan puasa setahun, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya.


Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya:
  1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
  2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
  3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Taala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.
  4. Puasa Ramadhan – sebagaimana disebutkan di muka – dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya ‘ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.
  5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.
Sebaiknya orang yang memiliki utang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan utangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal, dengan demikian ia telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala pada bulan Ramadhan adalah disyariatkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya: ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu ke haribaan Nabi, segenap keluarga dan sahabatnya.

MENGAPA TIDAK BERI'TIKAF?

Sumber : Dakwatuna.com

Bagian dari nilai yang terkandung dalam ibadah shaum adalah agar pencernaan tubuh manusia bisa menjalani rehat. Ini seperti dalam dunia pendidikan, di mana ada musim libur tahunan dalam rangka memperbaharui semangat belajar.

I’tikaf hampir sama dengan musim liburan yang merehatkan jiwa dan pikiran, bahkan fisik. I’tikaf merupakan pintu keluar seorang muslim dari rutinitas dan aktivitas kehidupan dunia berikut kesibukan dan kerumitannya. Seorang yang I’tikaf akan menghadap Penciptanya, Dzat Pencipta dunia seisinya ini. Seorang yang beri’tikaf sedang memutus dirinya dari kesibukan dunia dan memburu bekal perjalanan kehidupan yang ia butuhkan sampai hari ajal menjelang. Bukankah ini bagian yang kita pahami dari firman Allah swt. “Dan berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Dalam I’tikaf, jika dilakukan dengan memenuhi syarat dan kondisi yang mendukung, berikut niat yang lurus, akan mengantarkan pelakunya menemukan dirinya yang sebenarnya di hadapan Allah swt. Tidak ada jarak antara dirinya dan Allah swt. Tidak ada makhluk yang merintanginya. Karena ia diciptakan dalam kondisi seorang sendiri, bertanggung jawab atas dirinya sendiri, dan akan datang pada hari kiamat seorang diri jua.

Dalam I’tikaf seseorang melakukan proses penguatan imannya kepada Allah swt. iman kepada Sang Pencipta, Dzat yang Mengendalikan segala sesuatu. Karena itu, siapa sebenarnya yang berhak untuk ditakuti?? Atau siapa yang layak ditakuti perhitungannya, selain dari Allah swt.??

Hari-Hari Tertentu
Pelaksanaan I’tikaf hanya beberapa waktu saja, sejumlah hitungan jari, yaitu sepuluh hari terakhir Ramadhan saja, dari tiga ratus enam puluh lima hari yang Allah swt. sediakan. Semestinya perintah ini tidak memberatkan, jika dibanding jumlah hari yang begitu banyak dalam hitungan tahunnya. Sehingga, apakah jika beberapa hari atau beberapa jam seseorang tidak mencari duit dan kekayaan, waktunya digunakan untuk melaksanakan sunnah i’tikaf, ia akan mengalami kerugian atau mengalami bahaya?

Padahal jika ia beri’tikaf, ia telah melaksankan perintah dari Tuhannya, perintah dari Dzat Pemberi Rizki dan Dzat yang Maha Pemurah, Dzat yang Menguasai dunia berikut isinya…
Pemilik dunia ini juga yang menjadikan malam-malam tertentu di akhir Ramadhan sebagai malam-malam ibadah; untuk shalat, menghidupkan malam –qiyamullail-, tilawah dan dzikir, untuk selanjutnya ia keluar dari pelaksanaan i’tikaf dan bulan suci Ramadhan dengan hati yang bersih, iman yang kuat, ilmu dan pengetahuan yang melimpah, dengan itu ia mengetahui dirinya sendiri dan mengenal Tuhannya, yang boleh jadi ia tidak ketahui sebelum ia melakukan i’tikaf.
Jika kita mengetahui sebagian dari nilai dan hikmah i’tikaf ini, kita pasti akan mendudukkannya sesuai porsinya, sebelumnya juga kita tidak akan menzhalimi diri sendiri dengan meremehkannya, juga setelah mengetahui nilainya tidak akan berdiam diri dan bermalas-malasan.

Beri’tikaf berarti meraih sumber mata air yang menguatkan iman laksana mukjizat. I’tikaf menumbuhkan sikap dermawan tak terhingga, mendorong seorang mukmin untuk terus beramal tanpa henti, menumbuhkan cita-cita tanpa putus asa. Beri’tikaf mengikatkan diri dengan Allah swt. yang dengannya tidak akan berarti setiap ikatan-ikatan emosional lainnya. Beri’tikaf sekaligus meringankan beragam rintangan di jalan dakwah dan medan amal.
Berbeda dengan sekelompok orang yang selalu dikungkung beragam pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkannya dengan berbagai alibi dan alasan, walau untuk beberapa hari atau beberapa jam saja untuk beri’tikaf. Orang seperti ini layaknya seseorang yang merawat orang yang sakit, yang selalu membutuhkan perawatan, atau seperti orang jompo yang selalu membutuhkan pengawasan, tidak bisa ia tinggalkan. Kelompok orang yang demikian jauh lebih membutuhkan uluran bantuan dan kebaikan doa, agar Allah swt. melipat gandakan pahala kepada mereka di dunia dan akhirat.

Tipu Daya
Orang yang tidak bisa beri’tikaf pada dasarnya hanya mencari-cari berbagai alasan. Padahal boleh jadi alasan-alasan itu merupakan propaganda dan alibi semata.

Sungguh, dunia terus akan membebani jiwa, bahkan semakin tenggelam dengan kehidupan dunia akan semakin membebani jiwa. Padahal obat dari beban berat jiwa itu adalah i’tikaf.
Perangkap setan akan menyusup dan membisikkan bagi orang yang beri’tikaf bahwa apa yang ia lakukan –bekerja- juga dalam rangkaian beribadah kepada Allah swt, karena itu tidak boleh diganggu dengan i’tikaf. Jika propaganda setan ini terus mendominasi dirinya, maka lama-kelamaan ia akan sulit menerima kebenaran, berat melakukan i’tikaf. Padahal i’tikaf menjadi obat yang disediakan oleh Dzat Yang Maha Penyembuh dari berbagai penyakit.

Ya, hendaknya di hari-hari penghujung Ramadhan ini kita memiliki kemampuan untuk melihat agama dan dunia kita secara seimbang dan proporsional sebagaimana yang dikehendaki Allah swt. dan agar kita merasakan –meskipun sekejap- manisnya memutuskan diri dari kesibukan dunia untuk berintim dengan Allah swt., beri’tikaf. Sehingga dengan upaya itu akan merubah jiwa dan hidup kita menjadi lebih baik, dan itu berlangsung selama Ramadhan satu ke Ramadhan yang berikutnya, biidznillah. Allahu a’lam []

PEMIMPIN ADALAH NAHKODA

Oleh : Dr. Amir Faishol Fath
Sumber : Dakwatuna


Seorang pemimpin adalah pribadi yang sangat menentukan bagi suatu umat atau bangsa. Menentukan karena dengannya sebuah Negara bisa maju atau mundur. Bila seorang pemimpin tampil lebih memihak kepada kepentingan dirinya, tidak bisa tidak rakyat pasti terlantar. Sebaliknya bila seorang pemimpin lebih berpihak kepada rakyatnya, maka keadilan pasti ia tegakkan.

Keadilan adalah titik keseimbangan yang menentukan tegak tidaknya alam semesta ini. Allah swt menegakkan langit dengan keseimbangan. Pun juga segala yang ada di bumi Allah swt berikan dengan penuh keseimbangan. Padanan keseimbangan adalah keadilan, lawan katanya adalah kedzaliman.

Setiap kedzaliman pasti merusak. Bila manusia berbuat dzalim maka pasti ia akan merusak diri dan lingkungannya. Bayangkan bila yang berbuat dzalim adalah seorang pemimpin. Pasti yang akan hancur adalah bangsa secara keseluruhan.


Di dalam Al Qur’an Allah swt telah menceritakan hancurnya umat-umat terdahulu adalah kerena kedzaliman pemimpinnya. Karena itu bila kita berusaha untuk memecahkan persoalan bangsa maka tidak ada jalan kecuali yang pertama kali kita perbaiki adalah pemimpinnya.

Pemimpin yang korup dan dzalim bukan saja akan membawa malapetaka terhadap rakyatnya tepai lebih jauh –dan ini yang sangat kita takuti – Allah swt akan mencabut keberkahan yang diberikan. Sungguh sangat sengsara sebuah kaum yang kehilangan keberkahan. Sebab dengan hilangnya keberkahan tidak saja fisik yang sengsara melainkan lebih dari itu, ruhani juga ikut meronta-ronta.

Pemimpin Adalah Nahkoda

Benar, perumpamaan yang mengatakan bahwa pemimpin adalah nahkoda bagi sebuah kapal. Sebab Negara ibarat kapal yang didalamnya banyak penumpangnya. Para penumpang seringkali tidak tahu apa-apa. Maka selamat tidaknya sebuah kapal tergantung nahkodanya. Bila nahkodanya berusaha untuk menabrakkan kapal ke sebuah karang, tentu bisa dipastikan bahwa kapal itu akan tenggelam dan semua penumpang akan sengsara.

Ibarat kepala bagi sebuah badan, pemipin adalah otak yang mengatur semua gerakan anggotanya. Karena itu pemimpin harus cerdas, lebih dari itu harus jujur dan adil. Tidak cukup seorang pemimpin hanya bermodal kecerdasan, sebab seringkali para pemimpin yang korup menggunakan kecerdasannya untuk menipu rakyat. Karena itu ia harus jujur dan adil. Itulah rahasia firman Allah : “I’diluu huwa aqrabu lit taqwaa. Berbuat adillah, karena berbuat adil itu lebih dekat kepada taqwa”. QS. Al Ma’idah: 8.

Perhatikan ayat ini menunjukkan bahwa keadilan adalah jalan menuju ketaqwaan. Mengapa? Sebab tidak mungkin seorang pemimpin yang dzalim bertaqwa. Bila jiwa taqwa hilang dari diri seorang pemimpin, ia pasti akan berani kepada Allah swt. Bila seorang pemimpin berani kepada Allah swt, maka kepada manusia ia akan lebih berani.

Karena itu bekal utama seorang pemimpin harus benar-benar menegakkan taqwa dalam dirinya.

Karena itu pesan utama Al Qur’an adalah membangun pribadi taqwa. Sebab dengan taqwa seorang pemimpin akan bersungguh-sungguh ikut tuntunan Allah swt. Bila ia bersungguh-sungguh ikut tuntunan Allah swt maka segala langkahnya akan berkah dan otomatis Negara yang dipimpinya pun akan berkah.

Itulah rahasi mengapa dalam memilih seorang pemimpin, hendaklah sebuah bangsa jangan asal-asalan. Melainkan harus benar-benar selektif. Jangan asal disogok lalu berani mengorbankan kebenarn. Ingat bahwa Allah swt tidak hanya mengancam orang-orang yang berbuat dzalim, melainkan juga mengancam orang-orang yang mendukung kedzaliman tersebut. Allah berfirman:

“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. QS. Al Mukmin : 45-46.

Pemimpin Adalah Cermin Rakyat

Rakyat yang cerdas tidak mungkin memilih pemimpin yang bodoh. Rakyat yang bersih tidak mungkin memilih pemimpin yang korup. Tetapi sebaliknya bila rakyatnya korup maka pasti yang akan dipilih adalah pemimpin yang korup. Karena itu terpilihnya Fir’un sebagi raja, adalah karena rakyatnya bodoh dan bejat. Sebab siapakah sebenarnya seorang pemimpin, jika ia tidak mendapatkan dukungan? Ia sebenarnya tidak berdaya apa-apa. Jika semua rakyatnya bersatu untuk menyerangnya ia pasti tidak bisa bertahan. Karenanya pemimpin yang korup akan selalu menciptakan lingkungan agar rakyat tetap bodoh. Sebab dengan kebodohannya ia akan lebih lama berkuasa, dan lebih nyaman menikmaati kedzalimannya.

Ustadz Sayed Qutb ketika menafsirkan ayat tentang Fir’un dalam surat An Naziat menjelaskan bahwa sebenarnya Fir’un tidak mempunyai kekuatan sejumlah rakyatnya. Maka jika rakyatnya cerdas, mereka tidak mungkin mengizinkan Fir’un terus berkuasa. Mereka pasti akan segera memberontak atas kedzalimannya. Namun karena mereka bodoh, maka Fir’un merasa semakin tinggi. Puncaknya Fir’un menjadi lupa daratan sehingga ia mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan. Dia berkata seperti yang Allah swt rekam dalam surat An nazi’at: ”ana rabbukumul a’laa”. Saya tuhan kalian yang tinggi.

Perhatikan betapa seorang pemimpin adalah cerminan rakyat itu sendiri. Jadi sekarang tergantung kita sebagai rakyat, mau memilih pemimpin yang korup atau yang jujur dan adil.

Ingat bahwa setiap suara yang kita berikan itu adalah amanah. Bila kita salah menyerahkan amanah, yang sengsara kita juga. Sebaliknya bila kita bersungguh-sungguh untuk menyerahan amanah itu kepada yang ahlinya, maka kitalah yang akan menikmatinya. Bukan saja kesejahteraan di dunia yang kita dapatkan melainkan lebih dari itu, kita akan mendapatkan pahala yang melimpah karena kita telah mendukung kebaikan.

Dari sini nampak bahwa suara rakyat adalah sangat menentukan terhadap lahirnya seorang pemimpin. Oleh sebab itu, kita sebagi rakyat hendaknya bersungguh-sungguh untuk menjadi rakyat yang baik, sebab jika tidak, kita sendiri yang rugi dan sengsara. Rasulullah saw. Bersabda: ”Bahwa seorang mu’min tidak pantas terjatuh ke lubang yang sama dua kali”. Maka cukuplah masa lalu kita jadikan pelajaran. Sekarang sudah saatnya kita memilih pemimpin yang benar-benar membawa risalah Allah. Sebab hanya dengan menegakkan ajaran Allah swt keberkahan akan turun. Allah berfirman:

”Seandainya penduduk sebuah negeri beriman dan bertaqwa, niscaya akan Kami turunkan keberkahan dari langit dan bumi”. QS. Al A’raf : 96.

Berdasarkan hal di atas, jelas bahwa keberkahan yang akan kita raih tergantung perjuangan kita untuk menegakkan ajaran Allah. Dan untuk itu sungguh sebuah keniscayaan kita memilih seorang pemimpin yang benar-benar membawa keberkahan. Itulah pemimpin yang bersih dan senantiasa mengedepankan risalah Allah swt sebagai panduannya.

Sejarah telah membuktikan bahwa kisah-kisah pemimpin berhasil seperti yang Allah swt ceritakan dalam Al Qur’an, misalnya: Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, dan Dzul Qarnain, itu adalah karena kesungguhan mereka menegakkan ajaran Allah dalam kepemimpinannya. Begitu juga kepemimpinan Rasulullah saw, yang dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka dalah contoh-contoh yang tidak bisa kita nafikan sebagai puncak pemimpin yang paling berhasil dan sukses.

Dan bila kita teliti kunci utama keberhasailan mereka adalah karena mereka memimpin dengan ketaqwaan. Sebab bila seorang pemimpin bertaqwa ia pasti jujur dan amanah. Bila seorang pemimpin jujur dan amanah ia pasti akan memberikan yang terbaik kepada rakyat yang dipimpinnya.

Sebaliknya bila seorang pemimpin tidak bertaqwa, ia pasti akan selalu membawa bencana dengan kedzaliman yang ia bangga-banggakan. Kedzaliman adalah sumber kesengsaraan. Karena itu Allah swt menyebutkan bahwa orang yang paling dzalim adalah orang yanga setelah mendapatkan tuntunan dari Allah malah ia berpaling darinya. Mengapa dikatakan dzalim, karena dengan kedzalimannya tidak saja ia menjadikan dirinya sebagai bahan neraka, melain juga dengan kedzalimannya ia membawa acaman bagi orang lain yang dipimpinnya. Wallahu A’lam bish Shawab.