DAKWAH TIDAK DAPAT DIPIKUL ORANG MANJA

Oleh : DH Al-Yusni
Sumber :
http://www.dakwatuna.com

Wahai Saudaraku yang dikasihi Allah.

Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi kegemerlapan dan kesenangan. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan berat.

Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan manis getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus berpisah kaum kerabatnya. Ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah.

Cobalah kita tengok kisah Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt. meridhai mereka. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan kuku tercopot. Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini. Buat selamanya.

Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita sekalian. Karena kontribusi yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi. Dan, kita pun dapat memanen hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah mengalami populasi dalam jumlah besar. Semua itu karunia yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.

Duhai saudaraku yang dirahmati Allah swt.

Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam surat At-Taubah: 42.

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengarungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat mengokohkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kesuksesan. Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran. Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.

Saudaraku seperjuangan yang dikasihi Allah swt.

Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.

Penyakit wahan telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah dakwah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahwa perjuangan dakwah tidaklah harus mengalami kesulitan.

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At-Taubah: 45-46)

Kesetiaan yang ada pada mereka merupakan indikasi kuat daya tahannya yang tangguh dalam dakwah ini. Sikap ini membuat mereka stand by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.

Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.

Marilah kita telusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Dialah yang disebutkan Hasan Al Banna orang yang sepulang dari tempatnya bekerja sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton. Ia selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, ia merupakan orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja. Malah, ia yang membukakan pintu gerbangnya.

Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail pamit untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan ongkos untuk naik taksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan taksi dan mobil-mobil mewah, tapi saya tetap dapat memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah. Karena itu, pakailah ongkos ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan istirahat sejenak.” Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khawatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kendaraan umum saja.”

Duhai saudaraku yang dimuliakan Allah swt.

Itulah contoh orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada dakwah lantaran keyakinannya terhadap janji-janji Allah swt. Janji yang tidak akan pernah dipungkiri sedikit pun. Allah swt. telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan dakwah berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)- mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

Dengan janji Allah swt. tersebut, orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahwa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah swt. kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Dan, mereka pun tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). (Al Ahzab: 23)

Wahai ikhwah kekasih Allah swt.

Pernah seorang pejuang Palestina yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana diwawancarai. “Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman?” Jawabnya, karena perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih berarti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” ungkapnya lirih.

Wahai saudaraku seiman dan seperjuangan

Aktivis dakwah sangat menyakini bahwa kesabaran yang ada pada dirinyalah yang membuat mereka kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini, belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal khairiyah untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan bentuk pengorbanan ecek-ecek lainnya yang telah kita lakukan. Coba lihatlah pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah, lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencangnya hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima resiko karena kesabaran yang ada pada dirinya.

Kesabaran adalah kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah swt.

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 146)

Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan dakwah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini.

Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Militansi aktivis dakah merupakan kendaraan yang akan menghantarkan kepada kesuksesan. Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan. Wallahu’alam.

ANGAN-ANGAN MULUK

Ketahuilah bahwa selama manusia itu tangannya masih bergelayut dengan angan-angan muluk untuk hidup di dunia maka selama itu pula kenikmatan dunia menjadi inti dari butir-butir angan-angannya. Dan masih ditambah lagi dengan keinginan jiwa yang tidak hendak lekang dari unsur kemaksiatan yang memoles kenikmatan dan syahwat dunia.

Di sisi lain syetan selalu membisikkan janji bahwa nanti pada penghujung usia akan datang kesempatan untuk bertaubat. Tapi ternyata kematian telah benar-benar di depan mata dan harapan untuk memperpanjang kesempatan hidup sudah tidak memungkinkan lagi baru ia akan menyadari bahwa dirinya selama ini telah dikungkung syahwat dunia. Ketika itu penyesalannya karena sikap meremehkan yang ia lakukan selama ini benar-benar telah mencapai puncaknya, hingga hampir saja membunuhnya. Yang ia mohon pada saat demikian adalah agar dirinya diberi kesempatan untuk kembali kepada kehidupan dunia untuk bertaubat dan beramal shalih.
Namun sayang tak satu pun dari permohonannya itu yang akan dikabulkan, sehingga selain kepayahan yang harus ia tanggung pada saat sakaratul maut ia juga harus membawa beban penyesalannya.

Di dalam kitab-Nya Allah telah memperingatkan kepada hamba-hamba-Nya untuk mempersiapkan diri mereka dengan taubat dan amal shalih sebelum kematian datang menjemput.

“Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserahdirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan, ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan, ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah’.”

Ada cerita dari orang-orang yang tengah meninggu saat-saat kematiannya datang, mereka mendengar ungkapan penyesalan seraya menampar-nampar wajah mereka sendiri, “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah.” Adfa pula yang mengeluh,”Dunia telah tunduk kepadaku hingga hari-hariku lenyap begitu saja.”Yang lainnya mencoba mengingatkan,”Janganlah kalian tertipu kehidupan dunia seperti yang aku alami.”

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan, ‘Sekali-kali tidak, Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.” (Al-Mukminin:99-100).

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu. Lalu ia berkata, ‘Ya Rabbku, mengapa engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih ?’ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya.” (Al-Munafiqun: 10-11).
“Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini.” (Saba: 54).

Orang-Orang Salaf, termasuk diantaranya Umar bin Abdul Aziz, menafsirkan ayat Saba: 54 ini bahwa ketika mereka memohon keturunannya taubat atas dosa-dosa merekadibentangkanlah tabir yang menghalangi mereka dengan taubat itu.

Al-Hasan mengatakan, “Wahai anak Adam, bertaqwalah kepada Allah, janganlah engkau menanggung dua beban bersama-sama : Sakaratul-maut, dan penyesalan“ Sedangkan As-Sammak mengatakan hal yang senada, ‘ Hindarilah olehmu, sakaratul-maut dan penyesalan. Yakni, ketika kematian datang menjemput dengan tiba-tiba sementara engkau masih terkungkung dalam kubangan tipu daya. Tak ada kata-kata yang dapat menggambarkan apa yang akan engkau hadapi dan apa yang akan engkau saksikan kelak.”

Allah berfirman,
“Wahai anak Adam jika engkau bergelimang dalam kenikmatanku namun juga berkubang dalam lumpur kedurhakaan kepada-Ku maka berhati-hatilah. Aku tidak akan mematikanmu dalam kedurhakaan kepada-Ku.” Namun menurut versi ajaran orang-orang Yahudi Israel firman Allah itu berbunyi, ‘Wahai anak Adam, berhati-hatilah. Allah tidak akan menghukumi dengan dosa kemudian menghantarkanmu bertemu dengan-Nya. Kematianmu dengan cara demikian tidak akan dapat engakau jadikan alasan untuk berkelit dari siksa.’

Kenyataan telah membuktikan bahwa kematian kebanyakan orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk kedurhakaan, sangat tragis. Ketika kematian itu datang mereka belum sempat membersihkan lumpur kedurhakaan, dan lumpur itulah yang menjadi sumber kehinaan mereka dalam perjalanan kehidupan dunia mereka sekaligus menjadi bahan-bahan yang akan dikonversi menjadi adzab akhirat. Kenyataan menunjukkan bahwa kematian dalam keadaan belum bersih semacam ini banyak terjadi pada mereka yang menderita ketergantungan pada cairan yang beralkohol itu. Orang mengatakan:

“Adakah engkau merasa terlindung
engkau pemabuk yang ulung
tanpa kau sadari kematian telah tersandung
pada saat engkau masih lindung
engkau menjadi ibrah umat manusia di muka bumi
engkau bertemu Allah sebagai orang yang paling keji.”

Ada cerita dari orang-orang dahulu yang mengisahkan sebuah katastrop pahit yang dialami seorang pemabuk. Pada suatu malam orang ini mabuk. Isterinya yang mengetahui kelakuan suaminya itu langsung mengumpatnya karena telah meningggalkan sholat. Dalam keadaan mabuk ia membalas umpatan isterinya itu dengan bersumpah ingin menceraikannya tiga kali berturut-turut dan tidak akan melakukan sholat selama tiga hari berturut-turut pula. Tapi begitu berpisah ia merasa tersiksa berpisah dengan isteri. Siksaan itu menimpanya selama tiga hari. Pada hari ketiga ajal menjemputnya dalam keadaan yang sama sekali tidak berubah : kecanduan minuman beralkohol itu dan meninggalkan sholat.

Sumber : Mahligai Taqwa Memetik Mutiara Hikmah Oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaly hal.106

APAKAH DUNIA ITU..?

Jawabnya bisa macam-macam. Tapi sebagaimana jika merupakan soal pilihan ganda, jawaban yang benar pasti cuma satu. Apakah itu ? Marilah kita lihat sekeliling kita. Inilah dunia kita. Kita keluar dari rahim ibu kita, tumbuh besar, masuk sekolah, lulus, bekerja, menumpuk harta, membangun rumah dan memperindahnya, menikah, punya anak, dan anak kita pun kita didik agar jadi seperti kita atau lebih sukses daripada kita. Apakah hanya seperti itu dunia ini ?

Tentu Tidak !!!. Setiap sesuatu pasti ada kesudahannya. Begitu pula hidup kita di dunia ini. Kita sekolah, kuliah, bekerja, menumpuk harta, toh kita nanti juga akan mati. Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya: "Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian”. (QS: Ali 'Imraan: 185).

Dan ketika sudah mati, harta dan anak yang kita punyai tak bisa menyertai diri lagi. Mati itu kesudahan hidup. Tapi masalahnya, mati itu bukan kesudahan segala-galanya. Masih ada lagi masalah sesudah mati, yaitu hari kebangkitan, perhitungan amal, dan penentuan akhir nasib kita. Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya: "Kemudian Dia (Allah) mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian jika Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali”.(QS: 'Abasa : 21-22).

Dan Alloh subhanahu wa ta'ala juga berfirman, yang artinya: " Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam , supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka." (QS:Az-Zalzalah : 6).


Satu masalah lagi, amal yang akan dihitung dan ditimbang dan menentukan akhir nasib kita itu hanya bisa kita lakukan pada saat kita masih bisa menghembus nafas. Jika sudah tak bisa menghirup udara lagi, tak bisa pula kita mempersiapkan diri untuk hari itu.


Perkataan Ali bin Abi Thalib, " Sesungguhnya pada hari ini hanya ada amal tanpa perhitungan, dan besok (pada hari kiamat) hanya ada perhitungan tanpa amal."


Jadi, apakah dunia itu? Dunia adalah tempat persinggahan yang sementara saja, tidak kekal untuk selamanya. Yunus bin Abi Ubaid menjelaskan permisalan dunia, " Kehidupan dunia hanya bisa disamakan dengan orang yang tidur, dalam mimpinya melihat hal-hal yang ia senangi sekaligus yang ia benci, tapi ketika sedang menikmatinya, tiba-tiba ia terjaga. " Suka-duka hidup ini semisal mimpi-mimpi itu. Sedangkan terjaga dari mimpi adalah misal dari kematian.


Rasululloh shallallaahu 'alaihi wa sallam memaparkan tentang dunia dan diri beliau, "Apalah aku dan dunia ini !, Sesungguhnya permisalan aku dengan dunia adalah seperti seorang pengendara yang tidur di bayangan sebuah pohon. Kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut." (HR: Ahmad, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah).

Umar bin Abdul-'Aziz berkata, " Dunia itu sesungguhnya bukan tempat yang kekal untuk kita. Allah sendiri telah menakdirkannya fana, dan kepada para penghuninya telah digariskannya hanya melewatinya saja."

Wahai saudaraku, dunia memang aset bagi umat manusia. Di dalamnya terkandung sebuah kekayaan, yakni bumi beserta segala isinya. Bumi sebagai tempat tinggal manusia, menyediakan kebutuhan sandang, pangan, minum dan tempat melangsungkan pernikahan. Semua itu, kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk perjalanan kendaraan yang akan membawa badan anda menuju Allah. Sebab manusia hanya bisa bertahan dengan itu semua, sebagaimana onta yang digunakan sebagai kendaraan haji hanya bisa bertahan dengan memenuhi kebutuhannya. Ada di antara orang yang mengambil dari jatah kebutuhannya itu sebagaimana yang dianjurkan saja, dialah orang yang terpuji. Sementara ada pula orang yang mengambil dari jatah itu lebih dari kebutuhannya karena sifat rakusnya, orang yang demikian adalah tercela.

Dengan begitu, dia mengabaikan tujuan yang sebenarnya, dia tak lebih sebagai orang yang memberi makan onta, mengambilkan air minumnya dan menggantikan warna kelengkapan onta tersebut. Dia tak sadar bahwa rombongan telah berlalu, ditinggalkan seorang diri di gurun sebagai mangsa binatang buas bersama onta piaraannya.

Begitu pula dengan terlalu menahan diri untuk memenuhi kebutuhan, juga tidak beralasan. Sebab onta tidak kan kuat berjalan, kecuali keperluannya terpenuhi. Jalan yang tepat adalah mengambil jalan tengah, yakni mengambil bekal dari kehidupan dunia sekedar yang dibutuhkan untuk perjalanan saja.

Ketika Abu Shafwan Ar-Ru'ainy ditanya, " Apakah dunia yang Allah cela dalam Al-Qur'an, dan yang harus dijauhi oleh orang yang berakal?" Dia menjawab, " Segala yang Anda senangi di dunia, yang dengannya Anda tidak menghendaki kehidupan di akhirat, itulah yang tercela. Dan segala kenikmatan dunia yang Anda senangi, yang dengannya Anda menghendaki kehidupan akhirat, maka yang demikian itu tidak termasuk kehidupan dunia."


Perjalanan. Begitulah dunia itu hakikatnya. Dan setiap perjalanan ada tempat tujuannya. Dan untuk menuju kepada tujuan itulah kita seharusnya menyiapkan bekal kita.

Di dalam khutbahnya, Umar Ibnul-Khaththab menyatakan, " Setiap perjalanan mesti ada bekalnya, maka bekalilah perjalanan Anda dari dunia ke akhirat dengan takwa. Jadilah seperti orang yang melihat dengan mata kepalanya adzab yang Allah persiapkan baginya untuk kemudian disadari dan tumbuh perasaan takut. Janganlah Anda terlalu lama membiarkan waktu berlalu sehingga hati Anda terlalu mengeras."

Dalam khutbahnya, Umar bin Abdul-Aziz berkata,"... Berapa banyak orang yang membangun dengan kokoh setelah berselang beberapa waktu roboh, dan berapa banyak orang yang hatinya telah tercuri, ingin hidup menetap akhirnya harus meninggalkannya. Maka usahakanlah perjalanan dari dunia itu sebaik-baiknya dengan bekal terbbaik yang Anda miliki. Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bila dunia memang bukan tempat menetap bagi orang mukmin, maka dia harus menempatkan dirinya pada salah satu dari sikap-sikap berikut. Harus bersikap seakan-akan orang asing yang menetap di sebuah negeri asing yang tujuannya semata-mata mengumpulkan bekal untuk pulangke tanah airnya, atau bersikap seakan-akan seorang pengembara yang sama sekali tidak menetap tapi sepanjang hari dia terus berjalan menuju sebuah negeri tempatnya menetap kelak."

Al-Hasan menjelaskan sifat-sifat dunia, " Alangkah nikmatnya kehidupan alam dunia bagi orang-orang mukmin. Karena mereka senantiasa berbuat dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan surga. Dan sungguh keji dunia bagi orang kafir dan munafik, karena mereka membiarkan waktu malamnya berlalu, sementara bekalnya akan membawanya ke neraka."

Karena mereka senantiasa berbuat dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan surga. Dan sungguh keji dunia bagi orang kafir dan munafik, karena mereka membiarkan waktu malamnya berlalu, sementara bekalnya akan membawanya ke neraka."


Marilah lihat diri sendiri, sudah punya bekalkah kita semua ?, atau kita baru saja sadar bahwa kita ini ternyata hanyalah seorang pengembara yang harus kembali ke tanah airnya dan ternyata kita belum punya bekal secuilpun ! Wahai saudara, harta, istri, dan anak kita bukanlah bekal yang bisa kita bawa jika sudah tiba waktunya, tapi takwa itulah yang bisa menyertai kita.

Hasan bin 'Ali bercerita bahwa Fudhail bin Iyadl bertanya kepada seorang lelaki, "Berapa umurmu ?"

" Enam puluh tahun," jawab lelaki itu.

Lalu Fudhail berkata, "Sesungguhnya engkau telah enam puluh tahun menuju Tuhanmu, dan kini kau hampir sampai."

Lelaki itu berkata, "Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun ( Sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepadaNya lah kita akan kembali )."

"Tahukah engkau bagaimana tafsirnya ?" tanya Fudhail.

"Tafsirkanlah kepada kami, wahai Abu 'Ali ( panggilan Fudhail) !" pinta si lelaki.

"Jika engakau mengatakan 'inna lillaahi' berarti engkau telah mengikrarkan bahwa engkau adalah hamba Alloh subhanahu wa ta'ala, dan kepada Allohlah engaku akan kembali. Dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia adalah hamba Alloh subhanahu wa ta'ala dan kepada Alloh subhanahu wa ta'ala dia akan kembali, maka ketahuilah bahwa ia akan mati. Dan barangsiapa yang mengetahui ia akan mati, maka ketahuilah ia akan ditanya. Dan barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan ditanya, maka bersiap-siaplah untuk menjawabnya."

"Lalu bagaimana cara kami mempersiapkannya ?" tanya lelaki itu lagi.

" Penuhilah !" jawab Fudhail.

" Apa yang harus kupenuhi ? " tanyanya.

Fudhail menjawab, "Perbaikilah amalan-amalanmu yang akan datang, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu di masa lalu dan yang akan datang. Dan jika engkau memperjelek amalan-amalanmu yang akan datang, niscaya Alloh kan menyiksamu lantaran dosa-dosamu yang telah kamu perbuat di masa lalu dan yang akan datang. "


Takwa yang merupakan bekal perjalanan ini adalah berujud sebagai amalan -amalan sholih. Maka marilah ingati hal ini. Beramallah dengan bagus, dengan niat yang ikhlas dan sesuai syari'at.

Seperti seorang pengembara yang akan pulang menuju negerinya, ia harus mengetahui kiat-kiat dan cara-cara mempersiapkan bekal yang tepat agar bekal yang ia bawa dapat memberi manfaat bagi dirinya. Jangan sampai bekal yang ia bawa mengundang perampok - perampok yang akan menghabisi dirinya. Jangan pula bekal yang ia bawa dapat diendus binatang buas yang akan menggerogoti bekalnya. Maka untuk menghindari hal itu, sang pengembara harus tahu bagaimana mempersiapkan bekal yang tepat. Ia harus tahu ilmunya dulu.


Semisal itulah kita, agar amalan - amalan yang kita lakukan benar-benar dapat memberi manfaat bagi diri kita, kita harus tahu kiat-kiat dan cara-cara beramal sholih yang tepat. Jangan sampai kita melakukan amal sholih tapi tidak diniatkan kepada Allah. Jangan pula kita sudah berpayah - payah beramal sholih tapi ternyata tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallahu 'alihi wa sallam sehhingga amalan kita tidak diterima.

Lalu bagaimana untuk tahu cara-cara dan kiat-kiat beramal tersebut ? Reguklah ilmu -ilmu agama, bertamasyalah ke majelis -majelis pengajian, bercengkeramalah dengan ahli -ahli ilmu agama, niscaya kita akan tahu bekal bagaimanakah yang harus kita punyai untuk kembali ke haribaan Ilahi nanti.

Jadi ? Inilah dunia kita. Yang sebenarnya hanyalah tempat persinggahan sementara saja. Walaupun begitu, kita diperbolehkan mengambil perbendaharaan dunia secukupnya saja dan hanya yang halal saja. Namun, ingatlah, setelah itu kita akan kembali pada Yang Maha Pencipta dan kita akan ditanyai, amal akan dihitung, nasib akan ditentukan, ke neraka ataukah ke surga ?. Supaya kita sukses dalam perjalanan ini, maka bekal terbaik adalah takwa di mana ia adalah amalan - amalan sholih. Dan agar bekal amal sholih tersebut terhindar dari perampok syirik dan serigala bid'ah, maka kita harus tahu cara-cara mempersiapkannya. Sedangkan cara-cara tersebut hanya bisa diketahui lewat regukan-regukan ilmu agama di majelis-majelis taklim.

Sumber : Media Muslim

KHUSYUK DALAM SHOLAT

Shalat, kata Sa'id Hawwa, adalah sarana terbesar dalam tazkiyatun nafs (menyucikan jiwa). Pada waktu yang sama merupakan bukti dan ukuran dalam tazkiyah. Shalat adalah sarana dan sekaligus tujuan. Ia mempertajam makna ubudiyah, tauhid, dan syukur.

Shalat adalah zikir, gerakan berdiri, ruku, sujud, dan duduk. Penegakannya dapat memusnahkan bibit-bibit kesombongan dan pembangkangan kepada Allah, di samping merupakan pengakuan terhadap rubbubiyah dan hak pengaturan. Penegakannya secara sempurna juga akan dapat memusnahkan bibit-bibit ujub dan ghurur, bahkan semua bentuk kemungkaran dan kekejian. "Sesungguhnya shalat dapat mencegah kekejian dan kemungkaran." (Al-Ankabut 29).

Shalat akan berfungsi sedemikian rupa apabila ditegakkan dengan semua rukun, syarat, dan sunahnya. Secara lahir, kita menunaikannya secara sempurna dengan anggota badan. Secara batin, kita khusyuk dalam melaksanakannya.

Khusyuk itulah yang menjadikan shalat punya peran yang lebih besar dalam thahhir (penyucian), peran yang lebih besar dalam tahaqquq dan takhalluq (merealisasikan nilai-nilai dan sifat-sifat yang mulia). Tazkiyatin nafs berkisar seputar hal ini.

Amalan shalat yang bersifat lahiriah, kita melihat, masih dilaksanakan dengan baik oleh orang Muslim yang hidup di lingkungan Islam. Tetapi, apakah kita khusyuk melaksanakannya, masih menjadi tanda tanya besar. Nabi saw. bersabda, "Ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi adalah kekhusyukan." (HR Thabrani). Padahal, khusyuk merupakan tanda pertama orang-orang beruntung (Al-Mu'minun 1-2). Orang-orang khusyuk adalah orang-orang yang berhak mendapat kabar gembira dari Allah SWT. (Al-Hajj:34-35).

Demikian pentingnya kedudukan khusyuk, hingga ketidakberadaannya berarti rusaknya hati dan keadaan. Baik dan rusaknya hati tergantung kepada ada dan tidaknya khusyuk ini. Sesungguhnya khusyuk merupakan manifestasi tertinggi dari sehatnya hati.

Jika khusyuk telah sirna berarti hati telah rusak. Bila khusyuk tidak ada berarti hati telah didominasi berbagai penyakit yang berbahaya dan keadaan yang buruk, seperti cinta dunia dan persaingan untuk mendapatkannya. Bila hati telah didominasi berbagai penyakit, maka kecenderungan kepada akhirat akan hilang. Bila hati telah sakit maka sumber-smber kebaikan bagi kaum Muslimin pun hilang. Cinta dunia menimbulkan persaingan untuk mendapatkannya, sedangkan persaingan terhadap dunia tidak layak menjadi landasan tegaknya urusan dunia dan agama.

Hilangnya khusyuk pertanda hilangnya kehidupan. Dia sulit menjadi penerima nasihat dan didominasi oleh hawa nafsu. Bayangkan, tatkala hawa nafsu mendominasi hati, segala nasihat dan peringatan tak lagi bermanfaat, maka berbagai syahwat pun merajalela. Dan terjadilah perebutan kedudukan, kekuasaan, harta, dan nafsu syahwat. Bila hal-hal ini mendominasi kehidupan, maka tidak akan terwujud kebaikan dunia maupun agama.

Khusyuk adalah ilmu sebagaimana ditegaskan hadis Nabi Saw. Ilmu ini tidak banyak yang mengetahuinya. Bila Anda telah menemukan orang khusyuk yang bisa mengantarkan Anda kepadanya. maka berpegang teguhlah kepadanya. Orang berilmu itulah tanda ulama akhirat.

Sesungguhnya ilmu khusyuk berkaitan dengan ilmu penyucian hati dari berbagai penyakit dan upaya merealisasikan kesehatan. Masalah ini merupakan tema yang amat luas sehingga para ulama akhirat memulainya dengan mengajarkan zikir dan hikmah kepada orang yang berjalan menuju Allah sampai hatinya hidup. Bila hati telah hidup berarti mereka telah membersihkan dari berbagai sifat yang tercela dan mengantarkannya kepada sifat-sifat terpuji. Di sinilah perlunya membiasakan hati khusyuk melalui kehadiran bersama Allah dan merenungkan berbagai nilai kehidupan.

Resep Al-Ghazali
Khusyuk dalam shalat merupakan ukuran dan tanda kekhusyukan hati. Bagaimana khusyuk dihadirkan? Al-Ghazali menawarkan resep berikut. Lahiriah perintah, kata Al-Ghazali, adalah wajib, sedangkan lalai adalah lawan ingat. Yang lalai dalam semua shalatnya, bagaimana mungkin dia bisa mendirikan shalat untuk mengingat-Nya?

Kehadiran hati adalah ruh shalat. Minimum saat mulai takbiratul ihram. Kurang dari ini adalah kebinasaan. Semakin bertambah kehadiran hati, semakin bertambah pula ruh tersebut ada dalam bagian-bagian shalat. Berapa banyak orang hidup tapi tidak punya daya gerak hingga seperti mayit. Demikian pula orang yang lalai dalam seluruh pelaksanan shalat kecuali pada waktu takbiratul ihram. Seperti orang hidup yang tidak punya daya gerak sama sekali.

Ketahuilah, kata Al-Ghazali, makna batin memiliki banyak ungkapan tetapi seluruhnya terangkum dalam enam kalimat. Yaitu: kehadiran hati, tafahhum, takzim, haibah, raja'da haya'. Kehadiran hati ialah mengosongkan hati dari hal-hal yang tidak perlu hingga dia senantiasa sadar, tidak berpikiran liar. Tafahhum adalah paham terhadap makna. Takzim itu rasa hormat. Haibah adalah rasa takut yang bersumber dari rasa hormat. Raja' adalah pengharapan dan haya adalah rasa malu.

Faktor penyebab kehadiran hati adalah himmah atau perhatian utama. Tafahhum berasal dari kebiasan berpikir untuk mengetahui makna. Takzim lahir dari dua makrifat (terhadap kemuliaan dan keagungan Allah dan terhadap kehinaan dan kefanaan dirinya). Haibah datang dari makrifat akan kekuasaan Allah, hukuman-Nya, pengaruh kehendak-Nya. Penyebab timbulnya raja' adalah kelembutan Allah, kedermawanan-Nya, keluasaan nikmat-Nya, keindahan ciptaan-Nya, dan pengetahuan akan kebenaran janji-Nya. Sedang haya' muncul melalui perasaan serbakurang sempurna dalam beribadah dan pengetahuannya akan ketidakmampuan menunaikan hak-hak Allah.

Berdasarkan itu, manusia terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, orang lalai yang mendirikan shalat, tetapi hatinya tidak hadir sama sekali. Orang yang mendirikan shalat dengan hati tak pernah lalai sama sekali. Ketiga orang lalai yang tidak mendirikan shalat.

Yang terbaik adalah tipe kedua. Dia tidak pernah lalai dalam shalat dan selalu menghidupkan hatinya. Dia bisa sangat konsentrasi sehingga tidak merasakan apa yang tengah terjadi di sekelilingnya. Bahkan sebagian orang wajahnya pucat dan dadanya berguncang karena takut. Ini tak mustahil dicapai manusia. Apalagi banyak orang mengalami hal serupa karena takut pada raja dunia.

Jika kita termasuk orang yang menginginkan akhirat, hendaknya tidak melalaikan berbagai peringatan yang terdapat dalam syarat-syarat dan rukun-rukun shalat. Syarat-syarat yang mendahului shalat adalah azan, bersuci, menutup aurat, menghadap kiblat, berdiri tegak lurus dan niat.

Ketika mendengar seruan muazin hadirkanlah dalam hati gambaran dahsyatnya seruan hari kiamat dan bersegeralah dengan lahir dan batin untuk segera memenuhinya. Orang-orang yang bersegera memenuhi seruan ini adalah orang-orang yang dipangil dengan penuh lemah lembut pada hari 'pergelaran akbar'. Arahkan hati kepada seruan ini. ''Jika kita bisa mendapatinya dengan penuh kegembiraan, kesenangan, selalu berkeinginan untuk memulainya, maka ketahuilah rasa khusyuk akan datang kepadamu,'' kata Said Hawwa dalam buku Tazkiyatun Nafs. (Menyucikan Jiwa).

dikutip dari Harian Republika Edisi 7 Maret 2003

PERJALANAN KESEMPURNAAN KEPRIBADIAN

Abdul Fattah Rashid Hamid, Ph.D, seorang psikolog Muslim menyebutkan bahwa perjalanan setiap individu dalam menuju kesempurnaan kepribadian akan melewati tingkatan kepribadian sebagai berikut:

Kepribadian tingkat 1 : An-Nafs al-Ammarah
Pada tingkat ini manusia condong pada hasrat dan kenikmatan dunia. Minatnya tertuju pada pemeliharaan tubuh, kenikmatan selera-selera jasmani dan pemanjaan ego. Di tingkat ini iri, serakah, sombong, nafsu seksual, pamer, fitnah, dusta, marah dan sejenis-nya, menjadi palng domonan.

Kepribadian tingkat 2 : An-Nafs al-Lawwamah
Pada tingkat ini manusia sudah mulai melawan nafsu jahat yang timbul, meskipun ia masih bingung tentang tujuan hidupnya. Jiwanya sudah melawan hasrat-hasrat rendah yang muncul. Diri masih menjadi subyek yang dikendalikan hasrat-hasrat yang bersifat fisik, ia masih sering tertipu oleh muslihat dunia yang sementara ini.

Kepribadian tingkat 3 : An-Nafs al-Mulhima
Pada tingkat ini manusia sudah menyadari cahaya sejati tidak lain adalah petunjuk Alloh. Semangat taqwa dan mencari ridho Alloh adala semboyanya. Ia tidak lagi mencari kesalahan-kesalahan orang lain tetapi ia selalu introspeksi untuk menjadi hamba Alloh yang lurus. Ia selalu zikir dan mengikuti sunah nabi Muhammmad saw.

Kepribadian tingkat 4 : An-Nafs al-Qona'ah
Pada tingkat ini hati telah mantap, merasa cukup dengan apa yang dimilikinya dan tidak tertarik dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Ia sudah tidak ingin berlomba untuk menyamai orang lain. Ketinggalan 'status' baginya bukan berarti keterbelakangan dan kebodohan. Ia menyadari bahwa ketidak puasan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan Alloh menunjukkan keserakahan dan ketidak matangan pribadi. Pada tingkat ini, manusia mengetahui bahwa seseorang tidak dapat memperoleh kebaikan apa pun kecuali dengan kehendak Alloh. Hanya Alloh yang mengetahui apa yang terbaik dalam situasi apa pun.

Kepribadian tingkat 5 : An-Nafs al-Mut'mainnah
Pada tingkat ini manusia telah menemukan kebahagiaan dalam mencintai Alloh swt. Ia tidak ingin memperoleh "pengakuan" dari masyarakat atau pun tentang tujuannya. Jiwanya telah tenang, terbebas dari ketegangan, karena pengetahuanya telah mantap bahwa segala sesuatu akan kembali pada Alloh. Ia benar-benar telah memperoleh kualitas yang sangat baik dalam ketenangan dan keheningan.

Kepribadian tingkat 6 : An-Nafs al-Radiyah
Ini adalah ciri tambahan bagi jiwa yang puas dan tenang. Ia merasa bahagia karena Alloh ridho padanya. Ia selalu waspada akan tumbuhnya keengganan yang paling sepele terhadap kodratnya sebagai abdi Tuhan. Ia menyadari bahwa Islam adalah fitrah insan dan ia pun haqqul yaqin pada firman Alloh,""..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..". Ia patuh pada Alloh semata-mata hanya sebagai perwujudan rasa terima kasih-nya.

Kepribadian tingkat 7 : An-Nafs al-Kamilah
Ini adalah tingkat manusi yang telah sempurna (al-Insan al-Kamil). Kesempurnaanya adalah kesempurnaan moral yang telah bersih dari semua hasrat kejasmanian sebagai hasil kesadaran murni akan pengetahuan yang sempurna tentang Alloh. "Selubung diri"-nya telah terbuaka hanya mengikuti kesadaran Ilahi. Nabi Muhammad saw adalah contoh manusia yang telah sampai pada tingkat ini. Kepribadianya mengungkapkan segala hal yang mulia dalam kodrat manusia


Yang menjadi pertanyaan adalah di tingkat manakah diri saya dan anda berada ?